Adsense

Diberdayakan oleh Blogger.
Our Blog
Tampilkan postingan dengan label proposal penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label proposal penelitian. Tampilkan semua postingan

contoh proposal penelitian

Posted on 27/11/10

JUDUL : “STUDI PERBANDINGAN INTENSITAS BELAJAR SISWA LAKI-
                 LAKI DAN PEREMPUAN TERHADAP HASIL BELAJAR DI SMA
                 NEGERI 1 MERANTI  T.A 2009/2010”.

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

            Penelitian di bidang pendidikan (Educational Reserch) belakangan ini memberi  perhatian yang sangat besar terhadap pebelajar dan proses belajarnya. Penelitian seperti ini didasari oleh kesadaran akan perlunya pemahaman proses belajar dari sudut pandang pelajar, bukan semata mata dari sudut pandang guru dan ilmu pendidikan saja. Menurut Boekarts (1998:13), pemahaman pebelajar sebagai individu dalam belajar merupakan sebuah langkah penting dalam rangka meningkatkan kualitas hasil belajar. Dalam hal ini siswa dikelompokkan berdasarkan jenis kelaminnya yaitu laki-laki dan perempuan, dari kedua jenis kelami ini siapa yang lebih unggul dalam berprestasi.
            Fakta kebudayaan dan adat istiadat masyarakat timur memberi proritas lebih aktif pada kaum laki-laki. Hal ini pernah diungkap oleh Toru Serizawa (1992:30) bahwa:
“Di dalam masyarakat timur yang masih banyak menuruti adat istiadat kaum leluhurnya berpendapat bahwa laki-laki harus aktif mencari nafkah di luar, sedang wanita lebih aktif mengurus rumah tangga”.

      Ditinjau dari sudut pembudayaan di Indonesia terdapat kecenderungan untuk mengatakan bahwa laki-laki harus \lebih unggul dalam berprestasi. Pernyataan ini dikemukakan bahwa sebelum zaman kemerdekaan, kaum perempuan dibatasi hak-hak mereka, sehingga perbedaan peranan antara laki-laki dengan perempuan sangat jelas dalam berbagai hal.
      Namun demikian,dengan pandangan yang optimis beliau lebih lanjut mengatakan (1992:48) bahwa :
      Dari segi pelajaran disekolah umumnya siswa perempuan lebih unggul,sebab mereka lebih rajin belajar disbanding siswa laki-laki yang suka keluyuran selesai jam sekolah.
            Uraian tersebut mudah diterima secara logis dengan melihat kebiasaan-kebiasaan belajar yang dilakukan siswa laki-laki dan perempuan dalam rangka pembelajaran. Berbeda dengan John Locke yang dikenal dengan “Teori Tabularasa”. Menurut teori ini bahwa anak yang dilahirkan itu keadaannya masih bersih, tidak mengandung apa-apa, tidak ada pembawaan apa-apa. Dengan demikian menurut teori ini antara laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk berprestasi dalam berbagai bidang.
            Sementara itu Kartini Kartono (1980:145) mengungkapkan bahwa :
Pada masalah masalah ilmiah, wanita lebih konsekuen dan lebbih akurat daripada kaum laki-laki. Para nahasiswi akan membuat catatan-catatan dan diktat-diktat perkuliahan yang lebih lengkap dan lebih teliti daripada mahasiswa putra. Tetapi pada umunya catatan tersebut kurang kritis, karena mereka kurang bisa membedakan antara bagian –bagian yang penting dengan bagian yang kurang pokok.
Di sisi lain Kartini Kartono (1980:180), mengemukakan bahwa :
Betapapun baik dan cemerlangnya intelegensi wanita, namun pada intinya wanita itu hampir-hampir tidak pernah mempunyai minat yang menyeluruh pada soal-soal teoritis seperti kaum laki-laki. Hal ini antara lain bergantung pada struktur otaknya. Jadi, anita pada umumnya lebih tertarik pada hal-hal yang praktis antara lain masalah rumah tangga, dan kehidupan sehari-hari.

            Tinjauan keunggulan prestasi laki-laki dan perempuan dapat disebabkan dari berbagai segi antara lain, intensitas belajarnya. Intensitas yang dimaksud adalah giat , kuat, kehebatan (Poerwadarminta, 1998:381) Ditinjau dari minat dan frekuensi belajar, Intensitas belajar setiap orang berbeda-beda khususnya antara laki-laki dan perempuan. Hal ini disebabkan karena umumnya laki-laki lebih sering berada di luar rumah ketika pulang sekolah dibanding dengan perempuan yang lebih banyak berada di rumah. Hal ini dapat berpengaruh terhadap aktifitas belajar dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap hasil belajar mereka.

B. Identifikasi Masalah
            Dari uraian di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah:
1.      Kebudayaan dan adat istiadat masyarakat timur memberi prioritas lebih aktif pada laki-laki
2.      Wanita pada umumnya lebih  tertarik pada hal-hal yang praktis
3.      Pebelajar laki-laki suka keluyuran selesai jam sekolah
4.      Intensitas belajar setiap orang berbeda beda
5.      Dari segi pelajaran di sekolah umumnya siswa perempuan lebih unggul dari siswa laki-laki

C. Batasan Masalah
            Dari identifikasi masalah di atas banyak permasalahan yang muncul dan membutuhkan penelitian tersendiri. Untuk memperjelas dan mengarahkan yang akan diteliti maka masalah penelitian ini hanya dibtasi pada perbandingan intensitas belajar siswa Laki-Laki dan Perempuan terhadap hasil belajar SMA NEGERI 1 MERANTI.

D. Rumusan Masalah
            Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.      Apakah ada perbedaan intensitas belajar antara siswa laki-laki dan perempuan
2.      Apakah ada pengaruh intensitas belajar antara siswa laki-laki dan perempuan
3.      Apakah intensitas belajar siswa laki-laki dan perempuan secara bersama-sama mempengaruhi hasil belajar mereka

E. Tujuan Penelitian
            Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui apakah ada perbedaan intensitas belajar antara siswa laki-laki dan perempuan
2.      Untuk mengetahui apakah ada pengaruh intensitas belajar siswa laki-laki terhadap hasil belajarnya
3.      Untuk mengetahui apakah ada pengaruh intensitas belajar siswa perempuan terhadap hasil belajarnya
4.      Untuk mengetahui apakah intensitas belajar siswa laki laki dan perempuan secara bersama sama mempengaruhi hasil belajar mereka

F. Manfaat Penelitian
1.      Sebagai masukan bagi siswa dan guru, tentang pengaruh intensitas belajar terhadap hasil belajar
2.      Mencari alternatif dalam meningkatkan intensitas belajar siswa
3.      Sebagai motivasi bagi siswa untuk berkompetisi dalam belajar matematika
4.      Dapat mengambil pengalaman dari kelompok mahasiswa laki-laki dan perempuan yang lebih unggul dalam berprestasi

BAB II
LANDASAN TEORITIS
A.   Kerangka Teoritis
1.      Intensitas Belajar
Intensitas belajar adalah giat, kuat, kehebatan seseorang dalam belajar, (poerwadarminta (1998:381), dalam penelitian ini intensitas yang dimaksud ditinjau dari minat belajar, frekuensi belajar, dan keaktifan belajar.
a.                   Minat Belajar
Mappiare (1982;62) mengatakaan bahwa ;
Minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran perasaan, harapan,pendirian, prasangka, rasa takut atau  kecenderungan-kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.

Uraian tersebut menggambarkan bahwa minat terbentuk dari berbagai kompenen. Dengan demikian untuk menimbulkan minat perlu pula diatur kondisi dari objek yang ikut membangunnya.
Dengan terbentuknya minat pada diri seseorang, akan berdampak positif terhadap pembentukan konsenterasi pikirannya baik dalam rangka minat belajar maupun pada hal yang lain. Keadaan yang demikian pernah diuraikan oleh The Liang Gie (1996;8) beliau mengatakan :
Minat merupakan salah satu yang memungkinkan konsentersai pikiran seseorang dapat sehari penuh memuaskan pikirannya bermain catur karena ia mempunyai minat besar terhadap itu. Minat selalu memungkinkan pemusatan pikiran, juga akan menimbulkan kegembiraan dalam belajar. Keriangan hati akan memperbesar daya kemampuan belajar seseorang dan juga membantunya untuk tidak mudah melupakan apa yang dipelajari itu, maka dari itu minat sangat berpengaruh sekali prestasi siswa.

Betapa besar peranan minat dalam belajar. Dengan mempunyai minat yang besar, seseorang selalu ingin mengetahui tentang apa yang dipelajarinya. Siswa yang ingin tinggi minat belajar matematikanya misalnya akan merasa senang dan tidak merasa bosan dengan belajar matematika, bahkan waktunya tidak terasa telah dihabiskan dengan mengerjakan soal-soal  matematika, dan berlaku sebaliknya jika tidak mempunyai minat maka waktu yang sebentar akan terasa lebih lama.
Tentang hubungan minat dengan intensitas belajar, Koestoer Partowisastro (1979:4) pernah mengatakan bahwa :
Minat yang kurang mengakibatkan kurangnya intensitas, kegiatan kurangnya intensitas menimbulkan hasil yang kurang pula. Sebaliknya hasil yang kurang dapat pula mengakibatkan kurangnya minat terhadap hal itu.
Dari uraian tersebut terlihat adanya hubungan sebab akibat antara minat dan hasil belajar. Di satu sisi minat yang besar akan berdampak pada hasil belajar yang lebih baik, demikian juga sebaliknaya, jika hasil yang diperoleh kurang memuaskan akan berakibat pada kecenderunagn penueunan minat terhadap apa yang dipelajari.
Oleh sebab itu guru sebagai pemegang kedali pembelajaran harus dapat menarik perhatian siswa sepenuhnya terhadap materi pelajaran yang sedang dipelajari. Bila kondisi tersebut tidak dapat diupayakan maka hasil belajar akan jauh dari yang diharapkan. Menyadari betapa pentingnya menarik minat siswa dalam proses belajar mengajar, Soegarda Poerbakawatja (1976/:182) mengatakan bahwa
Tiap-tiap pembelajaran harus dapat menarik minat murid-murid, minat merupakan suatu kaidah pokok dalam didaktik.
Sedangkan mengenai perbedaan minat pria dan wania Mappiare (1982:63) mengatakan bahwa :
Beberapa penilitian demikian nampak dalam kenyataan, terdapat perbedaan yang besar antara objek minat remaja putra dengan objek minat remaja putrid. Misalnya dalam bentuk-bentuk permainan, pekerjaan yang ditekuninya, pengisian waktu luang dan sebagainya.
Dari pendapat itu perbedaan gender juga mempengaruhi perbedaan minat antara pebelajar laki-laki dan perempuan.
b.                  Frekuensi belajar
Dalam usaha meningkatkan prestasi belajar, selain menaruh perhatian besar terhadap materi yang dipelajari perlu juga dibarengi dengan usaha yang nyata (praktek belajar) yang berupa memperbanyak membaca, latihan dan sebagainaya. Dengan kata lain bahwa untyk meningkatkan prestasi belajar siswa harus mempertinggi frekusnsi belajar. Frekuensi belajar disini mempunyai arti sebagai derajat aktifitas siswa dalam belajar termasuk di dalamnya waktu belajar, kegemaran membaca buku, hobi mengerjakan soal-soal.
Tinggi rendahnya frekuensi belajar akan mempengaruhi hasil belajar yang diperoleh, jika frekuensi belajar optimal  maka hasilnya ceenderung meningkat. Pernyataan adanya hubungan yang positif abtara frekuensi dan hasil belajar didukung oeh teori belajar asosiasi yang dipopulerkan oleh Edward Lee Thorndike ini menekankan factor kesiapan (law of readness), latihan (law of exercise), dan hasil yang menyenangkan atau hukum akibat (law of effect).

1.      Hukum kesiapan (law of readiness)
Hukum kesiapan meneragkan bagaimana kesiapan seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan. Dari teori yang dikemukakan Thorndike mengenai hukum kesiapan dapat kita simpulkan bahwa seseorang akan berhasil dalam belajar apabila orang tersebut betul-betul telah siap untuk melakukan kegiatan belajar.

2.      Hukum latihan (law of exercise)
Hukum ini menyatakan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah pengulangan. Semakin sering stimulus respon terjadi, maka akan semakin kuat hubungan yang terjadi. Kalau pengulangan sering dilakukan maka hubungan antara stimulus dan respon akan bersifat otomatif. Sebaliknya makin jarang hubungan stimulus dan respon dilkukan malah makin lemah pula hubungan yang terjadi. Bila suatu konsep dalam matemaika dipelajari secara berulang ulang maka konsep tersebut akan lebih mudah untuk dikuasai.

3.     Hukum akibat (Law of effect)
            Hukum akibat mengatakan bahwa suatu tindakan akan menimbulkan pengaruh untuk tindakan yang serupa. Bila hubungan stimulus dan respon diikuti dengan peristiwa yang sesuai hubungan yang terjadi menjadi meningkat kekuatannya, sebaliknya seandainya peristiwa yang tidak sesuai mengiringi hubungan tadi, kekuatn hubungan tersebut menjadi berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa sesuatu yang dilakukan oleh seseorang sehingga menyenangkan hati orang tersebut, tindakan tersebut cenderung akan diulanginya. Sebaliknya untuk setiap tindakan yang menimbulkan rasa tidak senang,cenderung akan dihindarinya.
            Seorang siswa yang sudah berusaha secara maksimal akan merasa terpukul jika nilai yang diperolehnya tidak memadai, sebaliknya seorang siswa yang kurang belajartidak akan merasa bangga jika memperoleh hasil yang lebih baik (tidak sesuai dengan usahanya). Oleh sebab itu penilaian yang diberikan oleh guru haruslah benar benar objektif mencerminkan kemampuan siswa, bukan penilaian yang berdasarkan pada pertimbangan suka atau tidak suka (objektif).
            Kesimpulan yang dapat diambil sehubungan dengan intensitas belajar yang ditinjau dari frekuensi belajar adalah bahwa untuk meningkatkan prestasi belajar, siswa harus memaksimalkan frekuensi belajarnya. Hal ini mesti pula disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, baik mengenai materi pelajaran maupun cara penyampaian dengan tetap berpedoman pada hukum kesiapan, latihan, dan hukum akibat atau hukum yang menyenangkan.

2.    Perbedaan individu dalam belajar
            Penelitian yang memfokuskan pada perbedaan individu ini sangat berbeda dengan penelitian sebelumnya yanglebih menekankan pada berbagai strategi/tehnik atau metode mengajar dan pengaruhnya terhadap kualitas belajar.
            Ada beberapa faktor perbedaan individu yang memiliki peran dalam belajar yaitu :
a.   Gender
            Penelitian atas gender dan hubungan dengan belajar diperoleh oleh kaum feminist atas reaksi ketidakadilan oleh kaum perempuan dalam kesempatan dan perlakuan di bidang pendidikan. Pada saat itu siswa perempuan dianggap telah menjadi korban dari diskriminasi sistematis dari siswa dan guru laki-lakimaupun system pendidikan dan sekolah. Mata pelajaran dibedakan menjadi dua yaitu mata pelajaran yang maskulin karena lebih cocok untuk laki-laki (misalnya sains dan matematika), dan mata pelajaran feminime karena lebih cocok untuk perempuan (misalnya bahasa dan sejarah) (Francis,2000:5)
            Selanjutnya dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam belajar bahasa asing, pebelajar perempuan memiliki pola strategi yang berbeda secara signifikan dengan pebelajar laki-laki. Beberapa perbedaan yang ditemukan antara lain,
Ø      Pebelajar perempuan lebih peka terhadap suar dan ucapan dalam belajar bahasa asing dan mengasosiasikan apa yang didengar dengan benda atau gambaran yang ada dalam imajinasinya
Ø      Pada saat bercakap-cakap dengan penutur aslinya, pebelajar perempuan lebih sering meminta pembicara untuk mengulangi atau mengatakan sekali lagi kata-kata atau ekspresi yang baginya kurang jelas
Temuan di atas menunjukkan bahwa perbedaan gender yang memiliki peran dalam pencapaian hasil belajar karena pebelajar laki-laki dan perempuan punya kecenderungan untuk memilih strategi yang berbeda untuk mempelajari sesuatu yang sama.

b.   Persepsi dan Ekspektasi
            Shen dan Pedulla (2000:1) mendefinisikan persepsi sebagai cara pandang siswa terhadap suatu mata pelajaran yang kemudian menghasilkan suatu penilaian atau ramalan apakah mata pelajaran itu akan bisa dipelajari, seberapa besar kemungkinanya untuk berhasil dalam belajar, apa manfaat yang akan didapat dari mempelajari mata pelajaran tersebut, serta masalah apa yang mungkin akan dialaminya pada saat mmpelajarinya. Dengan kata lain persepsi adalah semacam kesadaran secara psikologis tentang manfaat belajar sesuatu baik sebelum, pada saat maupun sesudah mengalami proses belajar.
            Pemahaman terhadap persepsi siswa tentang performa akademiknya pada suatu mata pelajaran tertentu merupakan langkah awal yang penting untuk meningkatkan kualitas belajar. Menurut Boekarts (1998:13) persepsi akan mengarahkan siswa belajar. Hubungan antara persepsi dan kemampuan akademis sangatlah kuat (Byrne, 1984;itamermen, 1994). Selanjutnya Boekarts mengatakan bahwa persepsi memiliki peran dalam membentuk ekspektasi belajar. Yang dimaksud ekspektasi disisni adalah pendapat pribadi tentang apa yang akan dapat dicapai di masa mendatang apabila berhasil mempelajari suatu subjek tertentu. Keterhubungan antara pesepsi dan ekspektasi bisa digambarkan secara berikut. Seorang siswa merasa bahwa matematika sangt penting untuk dipelajari (persepsi) karena kalau dia memiliki keterampilan dalam matematika yang bagus maka dia akan dengan mudah mendapat pekerjaan di bidang pendidikan (ekspektasi)

c.   Sikap (Attitude)
            Banyak penelitian dirancang untuk menemukan hubungan atau pengaruh satu atau lebih factor perbedaan individu terhadap hasil belajar. Corbin and Chiachiere (1997) yang melakukan penelitian entang hubungan antara sikap (attitude) dengan hasil belajar (achievement) terhadap 349 siswa SMA menemukan bahwa sikap berpengaruh terhadap hasil belajar. Lebih jauh peneliti ini menemukan bahwa gender dan lama belajar juaga mempengaruhi hasil belajar secara signifikan. Wrigh (1999) juga menemukan bahwa gender merupakan “predictor” terkuat dari attitude. Dengan kata lain perbedaan gender berkorelasi terhadap perbedaab attitude.

d.   Motivasi
            Ada beberapa cara pengklasifikasikan motivsi salah satunya adalah motivasi intrinsik dan ekstrinsik (Fisher,1990; Stipek,2002) yang pertama didefinisikan sebagai dorongan dari dalam diri individu untuk melakukan atau belajar sesuatu, sementara itu motivasi ekstinsik mengacu pada dorongan yang berasal dari luar individu yang menyebabkan melakukan/belajar sesuatu.
            Saaban and Gaith (2000) menggunakan instrument penelitian berupa ‘motivation scale’ terhadap 180 mahasiswa yang berasal dari Libanon  dan sedang belajar di Amerika untuk mengetahui motivasi, usaha, ekspektasi, dan persepsinya terhadap kemampuan belajar. Peneliti ini menemukan bahwa mahasiswa Libanon di Amerika memiliki motivasi intregatf dalam belajar yang tercerin dari usaha, strategi, ekspektasinya untuk mencapai hasil belajar yang tinggi. Selain itu juga ditemukan bahwa mahasiswa perempuan memilii motivasi yang lebih tinggi daripada mahasiswa laki-laki.

e.   Kemampuan Belajar
            Meskipun kesadaran setiap individu berbeda dalam belajar, sampai saat ini sekolah atau system pendidikan masih memperlakukan semua siswa sama. Dengan kata lain semua siswa dianggap/diasumsikan memiliki kemampuan dan potensi yang sama dalam belajar. Akibatnya, semua siswa yang diajar dengan cara yang sama mengacu pada buku teks atau materi belajar yang sama,mereka juga diharuskan mengerjakan pekerjaan/tes yang sama dan melalui proses belajar yang sama. Dalam waktu atau jadwal yang sama, siswa dianggap sudah dapat mempelajari sejumlah materi yang sama (Guild.2001). Pendapat ini sejalan dengan pendapat skehean (1989) yang mengatakan bahwa pada penelitian tindakan kelas, semua siswa diasumsikan sama dan proses belajar mengajar dianggap sebagai sesuatu yang universal. Pada kenyataannya, siswa di dalam sebuah kelas memiliki rentangan kemampuan belajar yang sangat luas tergantung dari berbagai factor baik yang bersifat internal maupun eksternal.
            Seorang guru pastilah pernah mengamati beberapa muridnya belajar dengan cepat dan jauh mengungguli teman-temannya yang lain. Banyak juga siswa yang kelihatannya lamban atau sulit mencapai target atau indicator yang sudah ditetapkan oleh guru. Guru umumnya menuduh siswa yang kurang berhasil mencapai target sebagai siswa yang malas, kurang semangat, atau bahkan bodoh. Padahal dengan mengacu pada factor-faktor perbedaan individual di atas, ketidakberhasilan siswa mungkin diakibatkan karena materi atau strategi dan mengajar tidak cocok atau apa yang dipelajarinya tidak berguna atau tidak menarik baginya.

f.   Srategi Belajar
            Strategi belajar sering diterjemahkan bagaimana kita belajar (how to learn). Jadi , strategi belajar matematika adalah bagaimana pebelajar mmilih tingkah laku yang memungkinkan mereka mendapat ilmu dan keterampilan matmatika yang merupakan target yang dipelajarinya.
            Strategi belajar yang diterapkan oleh pebelajar biasanya didasari oleh penggunanya. Selain itu strategi bisa diubah dan disesuaikan dengan tujuan belajar. Karena sifatnya yang fleksibel dan pemakainya menyadari tentang pilihan strategi yang dipakainya, maka strategi belajar merupakan salah satu variable perbedaan individu.
            Penelitian kelas yang bertujuan meningkatkan mutu hasil belajar sekarang ini telah mengalami pergeseran focus, dari guru dan PBM menjadi pebelajar dan proses belajarnya. Perubahan ini erat hubungannya dengan  berkembangnya ilmu perbedaab individual (Individual Differences/ID) dimana pebelajar sebagai makhluk individu memiliki keunikan tersendiri dalam belajar. Individu satu dan lainnya memiliki perbedaan dari segi gender (laki-laki dn perempuan), persepsi dan ekspektasi belajar, sikap, motivasi, kemampuan belajar, maupun strategi belajar.

3.   Perbedaan Karakter Pria dan Wanita
            Ada perbedaan-perbedaan yang penting dalam karakter pria dan wanita, hal ini diakui orang sjak beribu-ribu tahun yang lalu. Baik ahli-ahli pemikir maupun buku-buku agama memaparkan hali ini. Orang pun tidak pernah berkata, bahwa secara fisik maupun psikis wanita itu sama dengan laki-laki.
Pada abad ke-19, terutama dibawah pengaruh gerakan-gerakan wanita yang secara sadar dan teratur memperjuangkan hak-hak persamaan atau emansipasi, orang berusaha menghilangkan perbedaan yang hakiki antara wanita dan laki laki. Terutama dalam usaha memperjuangkan persamaan hak-hak dan kewajiban bagi wanita sebagai manusai yang berderajat sama dengan laki-laki, dan sama kedudukannya sebagai warga Negara. Namum, betapapun kuat pergerakan feminisme ini, orang meyakini adanya perbedaan-perbedaan yang fundamental di antara hakikat dan sifat-sifat wanita dan pria.
      Menurut Heymans (dalam Kartini Kartono, 1980:143) mengatakan bahwa:
   Perbedaan laki-laki dan wanita itu terletak pada lebih kurang atau lebih banyaknya sifat-sifat sekundaritas, emosional, dan aktifitas dari fungsi-fungsi. Pada kaum wanita ada cukup fungsi sekunder, yang bukannya terletak pada intelek, akan tetapi pada perasaan. Oleh karena itu, nilai perasaan daripada pengalaman-pengalaman akan lebih lama berpengaruh terhadap struktur kepribadian wanita daripada laki-laki.
            Di dalam suatu lingkungan cultural tertentu itu selalu terdapat banyak bentuk tingkah laku, perbuatan, cara berpikir, dan gerak-gerik ekspresif yang khusus dilakukan dengan cara-cara yang feminism atau khusus kelaki-lakian. Hal ini disebabkan karena ada relasi yang pribadi dengan lingkungan sekitar, yang kemudian diekspresikan ke luar dengan cara yang khas-spesifik kewanitaan atau kelaki-lakian. 
Perbedaan ekspresif tingkah laku ini tetap ada, walaupun laki-laki dan perempuan melakukan pekerjaan yang sama. Bahwasanya wanita itu pada hakikatnya bisa bekerja sama baiknya dengan kaum laki-laki, hal ini dibuktikan pada masa-masa Perang Dunia pertama dan kedua, berupa macam-macam pekerjaan terdepan dan di garis belakang. Namun, cara bekerja kaum wanita ternyata berbeda dengan kaum laki-laki, yaitu khas dengan sifat kewanitannya.
            Umpamanya saja, pada umumnya wanita-wanita tadi cenderung untuk mengeluarkan energi kerja yang berlebih-lebihan, atau cenderung bekerja terlalu berat (over worked) karena didorong oleh kesadarab yang sangat mendalam akan tugas kewajiban. Pada saat lain, wanita cenderung berlaku pasif, dan memilih pola tingkah laku “lebih baik mengalah” sebagai suatu mekanisme bela diri di tengah masyarakat yang lebih banyak dikuasai oleh kaum laki-laki.
            Sehubungan dengan perasaan halusnya dan unsure keibuannya yang penuh kelembutan yang dimiliki oleh wanita, Ahmadi dkk (1990) membedakan sikap hidup antara laki-laki dan perempuan.
Laki laki :
Ø      Aktif memberi
Ø      Cenderung memberikan perlindungan
Ø      Minatnya tertuju pada hal-hal yang bersifat intelektual abstrak
Ø      Berusaha memutuskan sendiri dan ikut berbicara
Ø      Sifat objektif
Perempuan
Ø      Pasif dan menerima
Ø      Cebderung menerima perlindungan
Ø      Minatnya tertuju pada hal-hal yang bersifat emosional dan konkrit
Ø      Berusaha mengikuti dan menyenangkan orang tua
Ø      Sifat subjekif
Wanita pada umumnya lebih bersifat hetero-sentris dan lebih bersifat social. Karena itu maka lebih menonjollah sifat kesosialannya. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut ; sesuai dengan kodrat alaminya dan disebabkan oleh benyak mengalami duka-derita lahir bathin (terutama di waktu melahirkan bayinya) wanita itu lebih banyak tertarik pada kehidupan orang lain, terutama pada penderitaan orang lain.
Karena itu, ia senantiasa mencari objek perhatiannya di luar dirinya sendiri, yaitu terutama pada suami dan anak-anaknya, juga lingkungannya. Sebaliknya, kaum laki-laki mereka itu lebih bersifat egosentris dan lebih suka berpikir pada hal-hal yang lebih objektif dan esensial.
Maka perbedan laki-laki dan perempuan itu bukannya terletak pada adanya perbedaan-perbedaan yang esensial daripada temperamen atau karakternya, akan tetapi pada perbedaan susunan jasmaniahnya. Juga ada perbedaan dalam tujuan hidupnya secara hakiki, dan perbedaan fungsi sosialnya atau fungsinya di dalam masyarakat luas. Dengan demikian cuma terdapat perbedaan dalam nuansa kualitatifnya dan bukan perbedaan secara kuantitatif.

B.   Kerangka Konseptual
            Intensitas belajar merupakn salah satu factor yang mempengaruhi prestasi belajar, untuk memperoleh prestasi belajar yang memuaskan maka harus dibarengi dengan usaha yang maksimal  agar memperoleh hasil yang memuaskan sesuai dengan keinginan yang diharapkan.
            Intensitas yang dimaksud disini adalah giat, kuat, kehebatan. Giat dapat diartikan pada seberapa jauh frekuensi belajar dalam sehari, kuat merupakan sejauh mana minat dan semangat dalam belajar, sedangkan kehebatan dapat didefinisikan sebagai ketangkasan dalam belajar yang sangat erat kaitannya dengan daya nalar atau kecakapan seseorang dalam belajar.
            Baik secara biologis maupun individu siswa laki-laki dan perempuan memiliki fisik dan psikis yang berbeda yang memungkinkan perbedaan dalam hal ini belajar dan secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap hasil belajar mereka, Perbedaan-perbedaan itu meliputi gender, persepsi dan ekspektasi, sikap, motivasi, kemampuan belajar, dan strategi belajar.
            Menurut beberapa ahli, siwa perempuan lebih unggul dalam hal pembelajaran. Namun, ahli ini berpendapat bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai peluang yang sama dalam hal pembelajaran. Untuk itu dalam penelitian ini akan dikaji intensitas belajar siswa laki-laki dan perempuan terhadap prestasi belajar

C.   Hipotesis
            Hipotesis berfungsi sebagai pemberi arah, pemandu, dan sebagai pedoman kerja dalam mencari jawaban atas permasalahan-permasalahan penelitian. Hipotesis adalah sebuah dugaan sementara yang belum dibuktikan kebenarannya. Adapun hipotesis atau dugaan sementara dalam penelitian ini adalah
Ø      Ada perbedaan intensitas belajr siswa laki-laki dan perempuan
Ø      Ada pengaruh intensitas belajar siswa laki-laki terhadap hasil belajarnya
Ø      Ada pengaruh intensitas belajar siswa perempuan  terhadap hasil belajarnya
Ø      Intensitas belajar siswa laki-laki dan perempuan secara bersama-sama mempengaruhi hasil belajar mereka.




BAB III
METODE PENELITIAN
A.   Lokasi dan Waktu Penelitian
            Adapun yang menjadi lokasi dalam penelitian ini bertempat di SMA NEGERI 1 MERANTI dan waktu penelitian dimulai pada bulan Mei.

B.   Populasi dan Sampel
1.    Populasi
            Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin baik hasil menghitung maupun pengukuran kualitatifnya dan pada karakteristik terteneu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas, atau populasi dapat pula diartikan sebagai keseluruhan objek dalam penelitian, Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa Kelas  XI pada SMA NEGERI 1 MERANTI T.A. 2009/2010 berjumlah 160 orang terdiri dari 4 kelas dengan jumlah siswa laki laki 70 orang dan perempuan 90 orang.

2.   Sampel
            Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili karakteristik. Dalam penentuan sample, penulis berpedoman pada pendapat Sugiyono (2008:124) yaitu pengambilan sample ditentukan secara sengaja (Purposive sumpling) dengan pertimbangan tertentu, pertimbangan disini adalah mengingat jumlah siswa laki-laki yang sedikit.Oleh karena itu penulis menentukan sample sebanyak 80 orang terdiri dari 40 orang siswa laki-laki dan 40 orang siswa perempuan.

C.   Variabel Penelitian dan Rancangan Penelitian
            Dalam penelitian ini ada 3 variabel yang akan dibahas :
              I.      Variabel bebas (X1)      :           Intensitas belajar siswa laki-laki
2.   Variabel bebas (X2)      :            Intensitas belajr siswa perempuan
      3.   Variabel terikat (Y)       :           Hasil belajar siswa
            Selanjutnya rancangan hubungan antar variable dam penelitian ini dapat digambarkan dalam bagan berikut ini     

                                                                                                       
                       X1
                       

                                                                                                      Y
                                                                                                    
                       
                        X2

           Gambar Bagan Paradigama Hubungan Antara Variabel Penelitian.
D.   Instrumen Penelitian
            Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan angket
1)      Tes
Adapun tes yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk essay tes yang berjumlah 10 soal dimana soal tersebut diambil dari buku panduan, sehingga tidak perlu diujicobakan karena dianggap sudah memenuhi validitas isi. Nana Sudjana (dalam Surianto 2001:15) mengatakan bahwa “Agar suatu tes memenuhi validitas isi, maka hal ini bisa dilakukan dengan cara menysusun tes yang bersunber dari kurikulum bidang studi yang hendak diukur. Disamping kurikulum, dapat juga diperkaya dengan melihat buku sumber”.
2)  Angket
Angket adalah suatu daftar yang berisi pertanyaan-pertanyaan oleh orang yang ingin diselidiki (responden). Dengan menggunakan angket kita dapat memperoleh fakta-fakta yang kita harapkan. Pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam angket ini tergantung pada maksud dan tujuan yang ingin dicapai Dalam membuat angket terlebih dahulu dibuat indicator-indikator yang disusun berdasarkan aspek masalah yang ditetapkan. Adapun indicator-indikator dalam angket ini mengenai intensitas belajar siswa.
Untuk menjawab responden diminta untuk memberi  tanda (X) pada suatu kategori jawaban yang disediakan, jumlah angket yang disusun peneliti dalam hal ini adalah sebanyak 15 butir pertanyaan.


E.   Teknik Analisa Data
            Teknik analisa data merupakan cara untuk mengolah data agar dapat dijadikan informasi dari penelitian yang telah dilaksanakan. Setelah data diperoleh maka diolah secara statistik dan dianalisa dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.   Mendeskripsikan Data
            Mendeskripsikan data yaitu hasil data angket dan prestasi belajar siswa ditabulasikan dan digunakan untuk menghitung regresi multiple dari ketiga data.

b.   Uji Persyaratn Analitis
1.   Uji Normalitas
            Untuk uji normalitas digunakan uji Liliefours Sudjana (1996:466) dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Data skor hasil belajar atau angket X1,X2,……….Xn dijadikan bilangan atau angka baku Z1,Z2,…………,Zn dengan rumus :
Zi =

Dengan X = skor rata-rata
              S= Simpangan baku
b.   Untuk setiap simpangan baku  dihitung peluang F(Zi) = P(Z ≤ Zi)
c.   Menghitung proporsi Z1,Z2,…………Zn yang lebih kecil atau sama dengan Z1 jika proporsi ini dinyatakan  S(Zi) maka :
      S(Zi)=
d.   Menghitung selisih F(Zi)-S(Zi) kemudian menentukan harga mutlaknya.
e.   Menentukan Lo yaitu harga mutlak yang terbesar dari F(Zi)-S(Zi) dengan kriteria pengujian jika Lo hitung < Lo table untuk taraf nyata @=0,05, maka populasi diterima berdistribusi normal.
2.   Menentukan Persamaan Regresi linear
      a. Menentukan Persamaan Regresi Linear Variabel X1 terhadap Y
Untuk menentukan regresi linear variable X1 terhadap Y digunakan persamaan dengan rumus Sudjana (1996 : 315) dengan langkah-langkah sebagai berikut.
a)   Mencari harga a yang diperoleh dengan persamaan Sudjana (1996:315) yaitu
a =
Mencari harrga b yang dipeoleh dengan persamaan, Sudjana (1996:315) yaitu
      b =

               b)   Menentukan persamaan regresi linear Variabel X2 terhadap Y
                        Untuk menentukan regresi linear X2 terhadap Y digunakan persamaan dengan runus Sudjana ( 1996:315) dengan langkah-langkah sebagai berikut :
¾    Mencari harga a yang diperoleh dengan persamaan, Sudjana (1996:315) yaitu
                     a=

¾    Mencari harga b yang diperoleh dengan persamaan, Sudjana (1996:315) yaitu
b=

c.   Menentukan Persamaan Regresi Linear variable X1 dan X2 terhadap Y digunakan dengan runus sudjana (1996:347) dengan langkah-langkah sebagai berikut :
¾    Mencari harga a0 yang diperoleh dengan persamaan, Sudjana (1996:349) yaitu
Ao=ý-a1X1-a2X2
¾    Mencari harga a1 yang diperoleh dengan persamaan, Sudjana (1996:349) yaitu
a1=
¾    Mencari harga a1 diperoleh dengan persamaan , Sudjana (1996:349) yaitu
a2 =

3.   Uji Persamaan Linear
            a. Uji Persamaan Linear variable X1 terhadap Y
            Untuk menguji kelinearitasan regresi linear digunakan uji analisis varians menggunakan rumus Sudjana (1996:332) yaitu :
Sunber Variasi
dk
JK
KT
F
Total
Regresi
Regresi (b/a)
Residu
n
l
1
n-2
/n
JKreg=JK (b/a)
JK2res=

S2reg = (b/a)
S2res =
-
-
-
Tuna cocok

Kekeliruan
k-2

n-k
JK(TC)

JK(E)
S2 TC =
S2E =


            Jika a= 0,05 dk pembilang dan dk penyebut = n-k diperoleh Ftabel=F0,95(k-2,n-k) untuk uji kelinearan Fhitung < Ftabel bahwa hipotesis diterima








DAFTAR PUSTAKA

Trianto,  M.Pd. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta:
Kencana
Depdkibud. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke-2. Jakarta: Balai Pustaka.
Aqib, Zainal dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya.
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Pendidikam Edisi Ke-7. Bandung: Alfabeta
Sujana, Nana. 1989, Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Program Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Winkel, WS. 1984, Psikologi Pendidikan Dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedi

contoh proposal penelitian

Posted on 08/06/10

PROPOSAL
Judul :
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA
DALAM PEMBELAJARAN IRISAN
TERHADAP PESERTA DIDIK SMP SWASTA MUHAMDIYAH
KISARAN

TAHUN AJARAN 2009 / 2010

Oleh :

RIZKI AZHARI
070510430












FAKULTAS KEPENDIDIKAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS  ASAHAN
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan kelapangan dan kesempatan untuk dapat menyelesaikan proposal ini sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Pada awalnya banyak sekali kesulitan dan hambatan yang di dapat dalam penulisan proposal ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya mampu terselesaikan.
Ucapan terima kasih kepada Bapak Drs. Hidayat. M.Pd selaku  dosen mata kuliah Metode Penelitian Pendidikan yang telah memberikan masukan dan arahan.
Harapan penulis, semoga proposal ini dapat bermanfaat bagi para pembaca yang membutuhkannya.
Penulis sadar bahwa di dalam tulisan ini banyak terdapat kesalah dan kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun kepada semua pihak yang telah membacanya. Atas kritik dan saran para pembaca penulis ucapkan terima kasih.


Kisaran,     Juni 2010
Penulis


Rizki   Azhari
NIM 070510430

BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG MASALAH
             Objek matematika adalah benda pikiran yang sifatnya abstrak dan tidak dapat diamati dengan pancaindra. Karena itu wajar apabila Matematika tidak mudah dipahami oleh kebanyakan siswa sekolah dasar sampai SMP bahkan untuk sebagian siswa SMA sekalipun.  Untuk mengatasi hal tersebut, maka dalam mempelajari suatu konsep/prinsip-prinsip matematika diperlukan pengalaman melalui benda-benda nyata (kongkret), yaitu media alat peraga yang dapat digunakan sebagai jembatan begi siswa untuk berpikir abstrak.
             Dengan adanya alat peraga peserta didik lebih cepat memahamai materi yang disampaikan oleh pendidik. karena peserta didik lebih suka melihat sesuatu yang kongkret dari pada sesuatu yang abstrak. Akan tetapi selama ini para pendidik mengabaikan hal tersebut dan lebih banyak menyampaikan materi secara abstrak yang pada dasarnya membunuh minat belajar siswa.
             Berpedoman pada hal tersebut diatas, penulis merasa tertarik untuk mengamati bagaimana keefektifan proses belajar mengajar dengan metode belajar tanpa alat peraga dan dengan menggunakan alat peraga bagi siswa.
B.   IDENTIFIKASI MASALAH
             Selama ini dalam proses belajar mengajar sudah banyak metode dan cara yang dipakai pendidik untuk menarik minat peserta didik belajar, tetapi pada kenyataannya semua hal dan usaha yang dilakukan pendidik rasanya masih perlu mendapatkan pembinaan
             Bertitik tolak dari hal tersebut diatas, muncul berbagai permasalahan yang perlu diperhatikan, yaitu :
1.       Kemampuan peserta didik dalam menganalisa dan memahami setiap pelajaran yang disampaikan.
2.       Minat dan motivasi peserta didik dalam mempelajarai dan memahami setiap pelajaran
3.       Efektifitas penggunaan Alat peraga dalam mendukung peserta didik lebih memahami pelajaran.
C.   BATASAN MASALAH
             Dalam suatu penelitian aatau pengamatan perlu dilakukan apembatasan terhadap pemasalahan yang diamati, hai ini dimaksudkan untuk mempermudah bagi si penulis untuk menyelesaikan pengamatan yang sedang dikerjakan. Dan juga sebagai acuan agar pengamatan yang dilakukan sesuai dengan yang diharapkan.
             Melihat penjelassan diatas, penulis mencoba membatasi penelitian menjadi :
             “ Efektifitas Penggunaan Alat peraga dalam Pengajaran Irisan “


D.   RUMUSAN MASALAH
             Berdasakan pembatasan masalah di atas, penulis mencoba merumuskan masalah dalam penelitian ini menjadi :
1.        Bagaimanakah hasil proses belajar mengajar Irisan pada peserta didik tanpa menggunakan alat peraga ?
2.       Bagaimanakah hasil proses belajar mengajar Irisan pada peserta didik dengan menggunakan alat peraga ?
3.        Diantara kedua cara pengejaran diatas manakah yang lebih efektif diterapkan dalam proses belajar mengajar peserta didik Sekolah Menengah Pertama?
E.    TUJUAN PENELITIAN
             Adapun tujuan penelitian masalah ini adalah :
1.       Untuk memperoleh hasil belajar mengajar terhadap peserta didik tanpa menggunakan alat peraga.
2.       Untuk memperoleh hasil belajar mengajar terhadap peserta didik dengan menggunakan media pembelajaan.
3.       Untuk mengetahui manakah yang lebih mudah dimengerti atau ayang lebih  efektif diterapkan dalam proses belajar mengajar terhadap peserta didik.



F.    MANFAAT PENELITIAN
             Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1.        Sebagai bahan perbandingan bagi pembaca untuk memulai menilai keefektifan metode belajar dengan menggunakan alat peraga dan tanpa menggunakan alat peraga jika diterapkan dalam proses belajar mengajar peserta didik.
2.        Sebagai pedoman bagi guru untuk bisa menerapkan metode belajar yang efektif terhadap peserta didik
3.        Menambah pengetahuan penulis tentang penggunaan metode belajar mengajar yang sesuai bagi peserta didik.





















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   KERANGKA TEORI    
1.    Pengertian Pembelajaran
             Belajar adalah proses perubahan perilaku secara aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu, proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman, proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu yang dipelajari.
Sedangkan mengajar sendiri memiliki pengertian :
-        Upaya guru untuk “membangkitkan” yang berarti menyebabkan atau mendorong seseorang (siswa) belajar. (Rochman Nata Wijaya,1992)
-        Menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjdinya proses belajar. (Hasibuan J.J,1992)
-        Suatu usaha untuk membuat siswa belajar, yaitu usaha untuk terjadinya perubahan tingkah laku. (Gagne)
      Dan Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut)  ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar. (KBBI)
            Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. (Wikipedia.com)
         Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.
            Instruction atau pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Gagne dan Briggs (1979:3)
            Pembelajaran adalah Proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. (UU No. 20/2003, Bab I Pasal Ayat 20)
            Dan dapat ditarik kesimpulan bahwa Pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relative lama dan karena adanya usaha.
2.    Hasil Pembelajaran
Belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya perubahan, yaitu perubahan tingkah laku dan kecakapan dari orang yang belajar. Perubahan tingkah laku ke arah yang baik adalah merupakan tujuan pendidikan dan pengajaran yang bersifat efektif. Sedangkan kecakapan adalah merupakan hasil yang diperoleh dari pengajaran yang bersifat kognitif.
Hasil pembelajaran dapat dilihat setelah kita melakukan sebuah evaluasi. Evaluasi sangat penting dilaksanakan setelah pembelajaran. Hasil pembelajaraan dapat melihat hasil yang dicapai setelah pembelajaran. Hasil pembelajaran ini juga sering disebut prestasi.
Proses pembelajaran yang dilakukan bertujuan agar bahan yang kita ajarkan mampu dikuasai sepenuhnya/seluruhnya oleh seluruh siswa pula bukan beberapa orang saja. Pembelajaran seperti ini sering disebut pembelajaran tuntas.
Menurut Hamalik; “hasil belajar adalah tingkah laku yang timbul misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbul pengertian baru, perubahan dalam sikap”. Hasil belajar mempunyai peran penting di dalam memacu semangat belajar siswa. Jika seorang siswa memiliki hasil belajar yang bagus dan memuaskan, maka ia berusaha untuk mempertahankannya bahkan meningkatkannya lagi, begitu pula sebaliknya. Jika kurang memuaskan ia akan berusaha meningkatkannya. Maka akan lebih baik jika hasil belajar tersebut dikembalikan setiap kita mengadakan evaluasi.
2.    Pengertian Alat Peraga
         Alat peraga merupakan bagian dari media, oleh karena itu istilah media perlu dipahami lebih dahulu sebelum dibahas mengenai pengertian alat peraga lebih lanjut. Media pengajaran diartikan sebagai semua benda yang menjadi perantara terjadinya proses belajar, dapat berwujud sebagai perangkat lunak, maupun perangkat keras. Berdasarkan fungsinya media pengajaran dapat berbentuk alat peraga dan sarana.
         Apakah itu alat peraga? Alat peraga merupakan media pengajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri dari konsep yang dipelajarai (Elly Estiningsih, 1994). Alat peraga matematika adalah seperangkat benda kongkret yang dirancang, dibuat, dihimpun atau disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika (Djoko Iswadji, 2003: 1). Dengan alat peraga , hal-hal yang bersifat abstrak dapat sisajikan dalam model-model yang berupa benda konkret yang dapat dilihat, dipegang, diputarbalikkan sehingga dapat lebih mudah dipahami.
3.    Fungsi Alat Peraga
         Hal yang perlu diperhatikan adalah teknik penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika secara tepat. Untuk itu pelu dipertimbangkan kapan digunakan dan jenis alat peraga mana yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Agar dalam memilih dan menggunakan alat peraga sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran, maka perlu diketahui fungsi alat peraga.
Secara umum fungsi alat peraga adalah :
1.       Sebagai media dalam menanamkan konsep-konsep matematika
2.       Sebagai media dalam memantapkan pemahaman konsep
3.       Sebagai media untuk menunjukkan hubungan antara konsep matematika dengan dunia sekitar kita serta aplikasi konsep dalam dunia nyata. 
4.    Tujuan Penggunaan Alat Peraga dalam Pembelajaran
         Penggunaaan alat peraga dalam pembelajaran dipilih dan dipersiapkan agar dapat memenuhi tujuan pembelajaran. Diantara tujuan tersebut adalah:
1.      Memberi dorongan kepada siswa dengan menarik minat dan merangsang minat mereka terhadap pelajaran
2.      Melibatkan siswa secara langsung dan bermakna dalam memperoleh pengalaman belajar
3.      Memberikan saham dalam bentuk sikap dan mengembangkan apresiasi siswa
4.      Menjelaskan dan mengilustrasikan bahan ajar pengetahuan dan keterampilan kerja
5.      Memberikan kesempatan untuk melakukan swa-analisis dalam kinerja dan tingkah laku perorangan.
5.    Pengertian Irisan
             Irisan antara sebuah bidang datar a dengan sebuah bangun ruang ialah bangun datar yang semua sisinya adalah ruas garis persekutuan antara bidang a dan bidang sisi bangun ruang tersebut. Jika bangun ruangnya adalah bidang banyak maka irisannya adalah sebuah segi banyak (poligon: segi-n, n Î A dan n ³ 3).
5.    Alat Peraga Dan Pengaruhnya Terhadap Peningkatan Hasil Pembelajaran Irisan
Dalam proses pembelajaran yang ingin dicapai adalah sebuah hasil yang memuaskan sesuai dengan tujuan dari belajar sendiri. Alat peraga adalah sebuah media yang digunakan untuk membantu proses pembelajaran. Menurut Sujana (dalam Drs. Syaiful Bahri) ada beberapa fungsi dari media (alat) pembelajaran :
-         untuk membantu siswa dalam merangkap/memahami pembelajaran
-         untuk mempertinggi mutu belajar dengan kata lain meningkatkan hasil belajar akan teringat lebih lama.
-         untuk menarik minat/perhatian siswa
Pada pembelajaran Irisan sangat diperlukan menggunakan alat peraga, karena untuk memahami materi ini tidak cukup hanya membuat gambar-gambar di papan tulis saja misalnya saat menjelaskan tentang kubus, maka siswa akan kesulitan membayangkan bagian-bagian dari kubus itu sendiri. Seperti rusuk, titik sudut, diagonal bindang, diagonal ruang, dan sebagainya sampai pada hal-hal yang sulit. Sehingga dengan bantuan alat peraga yang berbentuk bangun-bangun ruang akan membanatu siswa dalam memahami bangun ruang pada pelajaran Irisan. Disamping itu penggunaan alat peraga ini juga sangat membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran Irisan.
Pada dasarnya alat peraga ini dapat menarik dan menimbulkan minat belajar siswa, maka dikatakanlah alat peraga ini berperan dan ikut meningkatkan hasil belajar siswa. Karena semakin tinggi minat seseorang terhadap suatu hal maka semakin kuatlah dorongan dan usaha yang dilakukannya untuk mencapai hal tersebut. Dengan demikian maka hasil belajar yang didapatnya akn semakin baik pula.

B.   HIPOTESIS
Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara yang akan diuji keberadaannya oleh peneliti. Hipotesis juga diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah yang akan dibuktikan sehingga terbukti dengan data yang terkumpul. (Arikunto)
Adapun Hipotesis dalam penelitian ini adalah  :
Hipotesis nol               :   Tidak ada pengaruh alat peraga  terhadap hasil pembelajaran matematika di kelas  SMP Swasta Muhamaddiyah Kisaran
Hipotesis kerja           :   Ada pengaruh alat peraga terhadap hasil pembelajaran matematika di kelas   SMP Swasta Muhamadiyah Kisaran






BAB III
METODE PENELITIAN
A.   DISAIN PENELITIAN
      Pengamatan selama tindakan penelitian dilakukan berdasarkan observasi, dibuat pada catatan pembelajaran. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep Irisan serta memperoleh manfaat yang lebih baik. Langkah-langkah yang ditempuh penelitian ini yaitu : 1) Dialog awal, 2) Perencanaan tindakan, 3) Pelaksanaan tindakan, 4) Observasi dan monitoring, 5) Refleksi, 6) Evaluasi, 7) penyimpulan. 
Langkah-langkah penelitian di ilustrasikan dalam sisklus sebagai berikut :
Dialog awal
Perencanaan
refleksi
evaluasi
penyimpula
Perencanaan revisi
refleksi
evaluasi
penyimpulan
Seterusnya sampai batas waktu yang ditentukan
            Penjelasan terhadap bagan diatas adalah :
1.         Dialog Awal
            Dialog awal ini dilakukan dengan harapan peneliti dapat mengetahui dan memahami permasalahan yang terjadi saat pembelajaran berlangsung yang meliputi keaktifan siswa dalam proses belajar-mengajar.
2.                     Perencanaan Tindakan
            Hasil dialog awal diharapkan membawa kesadaran pentingnya meningkatkan kemampuan pemahaman konsep Irisan pada siswa. Langkah-langkah persiapan untuk mengadakan tindakan terdiri dari :

a.                     Identifikasi masalah
            Peneliti merumuskan permasalahan  siswa sebagai upaya meningkatkan kemamnpuan pemahaman konsep Irisan pada siswa dalam belajar matematika yang diberikan melalui dukungan Alat Peraga. Tindakan yang ditawarkan pada identifikasi masalah antara lain dengan tes yang diberikan pada saat tindakan kelas, sehingga dapat mengidentifikasi materi yang dirasa sulit bagi siswa.
b.                     Identifikasi siswa
            Proses identifikasi siswa dilakukan untuk menemukan siswa yang aktif atau yang pasif dalam belajar melalui rangkaian kegiatan pengumpulan data yang mengacu pada dokumen hasil tes yang diberikan pada saat dilaksanakan tindakan.
c.                     Perencanaan solusi masalah
            Solusi yang di tawarkan untuk mengatasi masalah peningkatan pemahaman konsep Irisan pada siswa dalam pembelajaran matematika adalah strategi pembelajaran melalui dukungan Alat Peraga.
3.                     Pelaksanan Tindakan
            Tindakan dilaksanakan berdasarkan perencanaan, Namun tindakan tidak mutlak dikendalikan oleh rencana statu tindakan yang diputuskan mengandung resiko karena terjadi dalam situasi nyata, oleh karenanya rencana tindakan harus bersifat sementara dan fleksibel
4.                     Observasi dan Monitoring
            Observasi berfungsi untuk mendokumentasikan tindakan tekait. Observasi yang cermat dibutuhkan karena tindakan selalu akan dibatasi oleh kendala realistis, dan semua kendala tersebut Belum pernah dilihat dengan jelas pada waktu lalu. Observasi ini bersifat responsive, fleksibel dan terbuka untuk mencatat hal-hal yang tak terduga. Peneliti tindakan selalu menyediakan jurnal untuk mencatat hal-hal yang lupus dari observasi dalam kategori observasi yang ada. Saat melakukan observasi, peneliti mengamati proses tindakan, pengaruh tindakan, keadaan dan kendala tindakan.
5.                     Refleksi
            Refleksi dalam penelitian tindakan kelas (PTK) adalah upaya untuk mengkaji yang telah dan belum terjadi, apa yang dihasilkan, kenapa hal tersebut terjadi demikian dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan perbaikan. Dengan kata lain, refleksi merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan sementara.
6.                     Evaluasi
            Evaluasi relajar dan pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai relajar dan pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan penilaian atau pengukuran relajar dan pembelajaran. Evaluasi hasil pengamatan dilakukan untuk mengkaji hasil perencanaan, observasi dan refleksi penelitian pada setiap penelitian pada setiap pelaksanaan. Evaluasi diarahkan pada penemuan bukti-bukti untuk menyusun jalaban terhadap tujuan penelitian.
7.                     Penyimpulan
            Penyimpulan merupakan pengambilan inti sari dari sajian data yang telah terorganisir dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, padat dan bermakna. Hasil dari penelitian tersebut berupa peningkatan pemahaman konsep Irisan pada siswa.
B.   POPULASI dan SAMPEL
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Swasta Muhamadiyah Kisaran yang terdiri dari enam lokal paralel.
Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII A dan VIII C yang dipilih secara random atau acak.
C.   VARIABEL
            Dalam hal ini yang menjadi variabel antara lain :
-           Variabel bebas (X)   = penggunaan alat peraga
-           Variabel tingkat (Y) = hasil belajar siswa
D.   INSTRUMEN PENELITIAN
1.      Definisi opreasional
a.   Peningkatan
             Peningkatan merupakan usaha menjadikan sesuatu keadaan menjadi lebih baik yang dapat diciptakan atau diusahakan kriterianya.

b.   Pemahaman
             Pemahaman dalam penelitian ini dalah kesanggupan untuk mengenal fakta, konsep, prinsip dan skill. Meletakkan hal-hal tersebut dalam hubungannya satu sama lain secara benar dan menggunakannya secara tepat pada situasi. Pemahaman meliputi penerimaan dan komunikasi secara akurat sebagai hasil komunikasi dalam pembagian yang berbeda dan mengoprganisasi secara singkat tanpa mengubah pengertian.
c.   Konsep dalam matematika
             Konsep dalam matematika adalah abstrak yang memungkinkan kita untuk mengelompokkan (mengklasifikasi) objek/kejadian. Konsep yang tingkat tinggi dapat berupa hubungan antara konsep-konsep dasar. Konsep dapat dipelajari melalui definisi/pengamatan langsung. Disamping itu juga konsep dapat dipelajari dengan cara melihat, mendengar, mendiskusikan dan memikirkan tentang bermacam-macam contoh. Anak-anak yang masih berada dalam tahap operasi kongkrit dalam belajar konsep biasanya perlu melihat dan memegang benda yang dinyatakan oleh konsep itu. Sedangkan anak dari proses operasional formal mempelajari konsep melalui diskusi dan memperhatikan sungguh-sungguh. Seseoarang telah memahami jika orang tersebut telah mampu memisahkan contoh konsep dan bukan konsep.
2.      Pengembangan Instrumen
             Instrumen penelitian dikembangkan oleh peneliti dengan menjaga validitas isi. Berdasarkan cara pelaksanaan dan tujuan, penelitian ini menggunakan observasi. Dalam melakukan observasi menggunakan pedoman observasi yang terbagi menjadi tiga bagian :
a.            Observasi tindak mengajar
b.            Observasi tindak belajar yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika.
c.            Keterangan tambahan yang berkaitan dengan tindak mengajar maupun tindak belajar yang belum tercapai.
            Jadi dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam ataupun sosial yang diamati. Dalam pengumpulan data digunakan beberapa instrumen sebagai berikut :
a.       Catatan lapangan
b.      Test
c.       Observasi
d.      Dokumentasi
E.   TEKNIK PENGUMPULAN DATA
            Dalam penelitian ini alat pengumpul data adalah tes. Tes yang digunakan adalah pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan matematika khususnya materi Irisan.
F.    TEKNIK ANALISIS DATA
Untuk menganalisis data tersebut digunakanlah hasil yang telah dilakukan dengan cara :
-         Tingkat Kemampuan Siswa Tanpa Menggunakan bantuan alat peraga
-         Tingkat kemampuan sisiwa dengan adanya dukungan alat peraga.
Dengan menggunakan prinsip konversi lima penulis dapat mengetahui kemampuan siswa. Tingkat kemampuan siswa dapat diukur dari tinggi rendahnya skor mentah yang dicapai :
Adapun pedoman penilaiannya sebagai berikut :
Tingkat Penguasaan
Kategori
90% - 100%
Sangat tinggi
80% – 89%
Tinggi
65% - 79%
Sedang
55% - 64%
Rendah
0% - 54%
Sangat rendah

            



DAFTAR PUSTAKA
-         Arikunto, Suharsimim. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi VI. Rineka Cipta. Jakarta.
-         Djamarah, S. 2006. Strategi Belajar Mengajar Edisi Revisi. Reneka Cipta. Jakarta.
-         Fajar. Anie. 2002. Portofolio Dalam Pembelajaran IPS. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.
-         Hamalik Oemar. 1983. Proses Belajar Mengajar. Bumi Angkasa. Jakarta.
-         Syahruddin; Penggunaan Alat Peraga dan Metode Demonstrasi (Proposal PTK) hal.5.
-         http://wikipedia/pengertian-pembelajaran/
JIKA ADA KESALAH BERI TAHU YA. ALNYA INIPERTAMA KALI SAYA BUAT PROPOSAL.
INI TIDAK MURNI PROPOSAL SAYA, ADA SAYA SISIPKAN DARI PROPOSAL YANG SAYA DAPAT DI INTERNET.


ingin download kli here

Amazon